Jumat, 14 Desember 2012

sepatu pak tua

Sepatu Si Bapak TuaPDFPrintE-mail

Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota.
Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas
dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari
cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya
cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi.
Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas
sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.

Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si
bapak tua, ''Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah
juga?'' Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ''Supaya siapa pun yang
menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.''

Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan
merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia
berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-
mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain
memilikinya.

Sikap mempertahankan sesuatu -- termasuk mempertahankan apa yang
sudah tak bermanfaat lagi -- adalah akar dari ketamakan. Penyebab
tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan
ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu,
Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda
bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda
tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang
Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian
kebahagiaan Anda.

Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal
dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita
sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah.
Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang
suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita
adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.

Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara.
Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya.
Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan,
pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga
amanah ini dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang
membutuhkannya.

Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah
secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang
yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur.
Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk
menjadi ''perpanjangan tangan'' Tuhan. Anda tak merasa terganggu
karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ''titipan'' Tuhan
untuk membantu orang yang sedang kesulitan.

Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang
berkelimpahruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan
sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan
tak pernah berkurang. Semua orang akan merasa menang, tak ada yang
akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua
unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak.

sebuah penyesalan (refleksi)


PDF
PrintE-mail
Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses,
seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dia bawa pulang ke rumah,
karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham.
Ketika sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut,
Putrinya Jessica datang mendekati, berdiri tepat di sampingnya,
sambil memegang buku cerita baru.

Buku itu bergambar seorang peri kecil yang *imut*,
sangat menarik perhatian Jessica,
"Pa, liat!" Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya.
Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kaca matanya.
Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi
"Wah, buku baru ya, Jes?"
"Ya, Papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. "
*Bacain* Jessi *dong*, Pa," pinta Jessica lembut.

"Wah Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang *deh*," sanggah Budi dengan cepat.
Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan di depannya.
Jessica bengong. Tapi ia belum menyerah.
Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu
"Pa, Mama bilang, Papa mau baca untuk Jessi."

Budi mulai agak kesal, "Jes, Papa sibuk, sekarang Jessi suruh Mama baca ya?"
"Pa, Mama *cibuk* terus. Nih, Papa *liat* gambarnya, lucu-lucu."
"Lain kali Jessica. Sana! Papa lagi banyak kerjaan!"
Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi.
Menit demi menit berlalu, Jessica menarik napas panjang dan tetap di situ,
berdiri di tempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi.

"Pa..., gambarnya bagus. Papa pasti suka..."

"Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" Budi membentaknya dengan keras.

Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis,
matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. "Iya, Pa. Lain kali ya, Pa?"
Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya,
ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. "Pa, kalau Papa ada waktu,
Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa *denger*...."

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu
namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi,
Buku cerita Peri *imut*, belum pernah dibacakan bagi dirinya.
Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk..!!"

Beberapa tetangga melaporkan dengan histeris
bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabok
yang melajukan kendaraannya dengan kencang di depan rumah Budi.
Tubuh Jessica mungil terentak beberapa meter.
Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya,.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih
"Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang Papa-Mama."
Darah segar terus keluar dari mulutnya
hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi.
Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji.
Kini yang ada hanyalah penyesalan.
Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak dia penuhi.
Masih segar terbayang dalam ingatan Budi tangan mungil anaknya yang
memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali,
"...Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa dengar..."
Kata-kata Jessi itu mengiang kembali.

Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati.
Canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi.
Budi mulai membuka buku cerita peri *imut*
yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi,
sampulnya sudah usang dan koyak.
Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya
seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman
pertama dan membacanya dengan sura keras.
Tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras.Ia terus membacanya dengan keras-keras,
halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.
"Jessi, dengar Papa baca ya..."

Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi
"Jessi, Papa mohon ampun, Nak.
Papa sayang Jessi.." Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya.
Tak kuasa menahan sakit itu, Budi bersujud dan menangis...,
memohon satu kesempatan lagi untuk belajar mencintai.
 

SANDI MORSE

Kode Morse atau 'Sandi Morse' adalah sistem representasi huruf, angka, tanda baca dan sinyal dengan menggunakan kode titik dan garis yang disusun mewakili karakter tertentu[1] pada alfabet atau sinyal (pertanda) tertentu yang disepakati penggunaannya di seluruh dunia. Kode Morse diciptakan oleh Samuel F.B. Morse dan Alfred Vail pada tahun 1835.

Kode Morse

Daftar isi

Perkembangan

Awal penggunaan

Kode morse pertama kali digunakan secara luas setelah teknologi radio dan telegrafi berkembang pesat di akhir abad ke-19. Pada awal-awal penggunaannya kode morse dipakai untuk pengiriman pesan antara dua tempat yang terpisah jauh dengan menggunakan teknologi radio CW atau gelombang tetap sebelum ditemukannya komunikasi radio dengan suara. Hal ini dikarenakan radio pada masa awalnya masih pada penggunaan gelombang rendah, yang tidak mampu mengirimkan gelombang suara, namun dapat mengirimkan bunyi sederhana seperti bunyi panjang-pendek dari kode morse.
Kode morse tidak lagi dipergunakan sebagai modul komunikasi resmi Angkatan Laut internasional pada tahun 1997 dan diganti dengan sistem GMDSS yang menggunakan satelit bukannya gelombang radio, namun sampai saat ini kode morse masih aktif digunakan dalam komunikasi jarak jauh antar kapal laut atau menara darat internasional.

Penggunaan sipil


Tombol transmisi morse tipe satu tombol. Model ini umum digunakan sejak Perang Dunia ke-2. Kini model varian dua tombol (masing-masing untuk titik dan garis) lebih umum digunakan dalam pengiriman kode morse.
Pada masa awal perkembangannya hingga pertengahan abad ke-20, kode morse yang dikirim melalui telegraf adalah media komunikasi yang jangkauannya terluas dan tercepat, dan menjadi sarana utama pengiriman berita di kantor-kantor pos di seluruh dunia hingga saat telepon menjadi populer di masyarakat. Namun hingga saat ini, radio amatir (radio non pemerintah, komersial maupun militer), termasuk ORARI Indonesia masih aktif menggunakan kode morse baik untuk berkomunikasi maupun berpartisipasi dalam kontes[2].
Kode morse juga masih dicantumkan dalam pedoman radiotelepon Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), walaupun hanya digunakan dalam keadaan tertentu saja. Pelayaran sipil juga masih menggunakan kode morse untuk komunikasi jarak jauh.
Sinyal yang paling umum disepakati dan digunakan dalam Kode Morse adalah sinyal SOS (... --- ...), yaitu kode yang digunakan sebagai tanda adanya bahaya yang telah disepakati oleh berbagai perjanjian maritim internasional, dan di beberapa negara dan wilayah menggunakan tanda ini di luar situasi gawat darurat dapat berakibat kepada ancaman hukuman. Kapal yang berada dalam bahaya dapat mengirimkan tanda ini sebagai sinyal darurat, baik dalam bentuk sinyal radio, lampu tanda, peluit atau bendera.

Metode dan cara penggunaan

Durasi pengiriman kode morse diukur dalam satuan Kata Per Menit (WPM), dan berkisar di antara 8-50 WPM di dalam penggunaannya secara umum melalui jaringan radio atau media lain.

Kode morse dalam kepramukaan

Kode morse juga digunakan dan dipelajari di dunia kepramukaan atau kepanduan. Dalam dunia kepramukaan kode morse disampaikan menggunakan senter atau peluit pramuka. Kode morse disampaikan dengan cara menuip peluit dengan durasi pendek untuk mewakili titik dan meniup peluit dengan durasi panjang untuk mewakili garis.
Untuk menghafalkan kode ini digunakan metode yang mengelompokkan huruf-huruf berdasarkan bagaimana huruf ini diwakili oleh kode morsenya. Pengelompokan tersebut antara lain Alphabet dengan kode morse yang berkebalikan antara titik dan garis, misalnya huruf K yang diwakili oleh -.- berkebalikan dengan huruf R yang diwakili oleh .-. dan alfabet dengan kode morse berlawanan. Misalnya, huruf A yang diwakili oleh .- dan huruf N yang diwakili oleh -..
Kemampuan menerima dan mengirimkan kode morse merupakan salah satu dari kecakapan yang dapat menerima Tanda Kecakapan Khusus. Kode morse juga digunakan sebagai kunci dalam memecahkan Sandi Rumput.

Alfabet dalam kode morse

  • A • –
  • B – • • •
  • C – • – •
  • D – • •
  • E •
  • F • • – •
  • G – – •
  • H • • • •
  • I • •
  • J • – – –
  • K – • –
  • L • – • •
  • M – –
  • N – •
  • O – – –
  • P • – – •
  • Q – – • –
  • R • – •
  • S • • •
  • T –
  • U • • –
  • V • • • –
  • W • – –
  • X – • • –
  • Y – • – –
  • Z – – • •
Tanda Baca :
  • . • – • – • –
  • , – – • • – –
  • : – – – • • •
  • - – • • • • –
  • / – • • – •
Angka :
  • 1 • – – – –
  • 2 • • – – –
  • 3 • • • – –
  • 4 • • • • –
  • 5 • • • • •
  • 6 – • • • •
  • 7 – – • • •
  • 8 – – – • •
  • 9 – – – – •
  • 0 – – – – –

Metode memorisasi

Beberapa metode umum digunakan untuk memudahkan penghafalan kode ini, baik visual, auditori dan metode lain yang masih terus berkembang.

Metode Koch

Metode Koch adalah metode pembelajaran pengiriman kode morse dengan sistem gradual. Latihan dengan metode Koch dimulai dengan menggunakan dua huruf yang diulang terus menerus[3] (umumnya E dan T untuk alasan pembiasaan dengan interval). Setelah seseorang menguasai dua huruf ini dan dapat membaca maupun mengirimkannya dengan cepat, maka satu huruf ditambahkan, dan seterusnya hingga seseorang yang mempelajari kode morse dapat menguasai pembacaan maupun pengiriman kode melalui pembiasaan.

Metode substitusi

Metode ini umum digunakan di kepramukaan Indonesia, yaitu dengan membuat padanan kata yang berawal dari alfabet latin, dan setiap O mewakili garis ( - ), dan setiap huruf vokal lain mewakili titik (.)
A : Ano . -
B : Bonaparte - . . .
C : Coba - coba - . – .
D : Dominan - . .
E : Egg .
F : Father Joe . . – .
G : Golongan - – .
H : Himalaya . . . .
I : Islam . .
J : Jago loro . – - -
K : Komando - . -
L : Lemonade . – . .
M : Motor - -
N : Notes - .
O : Omoto - – -
P : Pertolongan . – - .
Q : Qomokaro - – . -
R : Rasove . – .
S : Sahara . . .
T : Ton -
U : U'nesco . . -
V : Versikaro . . . -
W : Winoto . – -
X : Xosendero - . . -
Y : Yosimoto - . – -
Z : Zoroaster - –



Pengelompokan

metode yang mengelompokkan huruf-huruf berdasarkan bagaimana huruf ini diwakili oleh kode morsenya. Pengelompokan tersebut antara lain Alphabet dengan kode morse yang berkebalikan antara titik dan garis, misalnya huruf K yang diwakili oleh -.- berkebalikan dengan huruf R yang diwakili oleh .-. dan alfabet dengan kode morse berlawanan. Misalnya, huruf A yang diwakili oleh .- dan huruf N yang diwakili oleh -..
Alfabet dengan kode morse yang berkebalikan
Alfabet Morse Alfabet Morse
E . T -
I .. M --
S ... O ---
H .... KH ----
Alfabet Morse Alfabet Morse
K -.- R .-.
X -..- P .--.
Alphabet dengan kode morse yang berlawanan
Alfabet Morse Alfabet Morse
A .- N -.
U ..- D -..
V ...- B -...
Alfabet Morse Alfabet Morse
W .-- G --.
F ..-. L .-..
Y -.-- Q --.-
Tidak memiliki pasangan
Alfabet Morse
C -.-.
J .---
Z --..
Penghafalan dilakukan secara kelompok huruf EISH TMOKH, AUV NDB, WFY GLQ CJZ
E   = .         T   = _           R   = ._.      F   = .._.
I   = ..        M   = _ _         K   = _._      L   = ._..
S   = ...       O   = _ _ _       W   = ._ _     Q   = _ _._
H   = ....      KH  = _ _ _ _     G   = _ _.     Y   = _._ _ 
A   = ._        N   = _.          C   = _._.      X   = _.._
U   = .._       D   = _..         J   = ._ _ _    P   =._ _.
V   = ..._      B   = _...        Z   = _ _ ..

Perkembangan

Beberapa metode lain masih dikembangkan untuk mempermudah penghafalan kode morse, seperti tabel morse, podcast online, dan "lagu morse" yang mempermudah pendangkapan dengan pendengaran.

 




Alat dan Cara Pengiriman Isyarat dengan Morse

PDF Print E-mail
Kita mengenal berbagai macam cara dan alat untuk menyampampaikan isyarat morse antara lain sebagai berikut

ALAT
CARA
Peluit
Bunyi Panjang dan Pendek
Bendera
Kibaran Panjang dan Pendek
Api/ Cahaya
Nyala Pendek dan Panjang
A s a p
Gumpalan Kecil dan Besar
Telegrap
Tulisan Titik dan Garis
Cermin dengan bantuan cahaya matahari
Sinar Sebentar dan Lama

Berikut ini aneka arti untuk pengiriman tanda morse dengan menggunakan peluit atau lainnya :
 Image

Untuk menyampampaikan isyarat morse dengan alat bendera dilakukan seperti di bawah ini :
Image

Kamis, 13 Desember 2012

DEWAN SATUAN PRAMUKA


                                                                                      RM - 3.2
RANCANGAN  MENGAJAR ( RM )


PELATIHAN / PENATARAN   :  KMD


ALAT BANTU



PAPAN TULIS
POKOK BAHASAN        :   DEWAN SATUAN PRAMUKA

OVERHEAD PROJECTOR


MOVIE PROJECTOR
WAKTU                          :  2 X 45 MENIT

SLIDE PROJECTOR
TANGGAL                     :

FLIP CHART
SASARAN            :  Peserta mampu menjelaskan apa, bagaimana, mengapa, sasaran, tujuan Dewan Satuan dan menerapkan dalam kegiatan kepramukaan


LAIN - LAIN :



MENIT


GARIS BESAR POKOK BAHASAN


METODE

5'


Pendahuluan :
Pengertian Dewan Satuan Pramuka



ceramah


50'




30 '

Inti
1. Tujuan dibentuk Dewan Satuan Pramuka
2. Tugas Dewan Satuan Pramuka
3. Macam - macam Dewan Satuan Pramuka
4. Dewan kehormatan pada satuan Pramuka dan tugas-tugasnya
5. Peragaan Sidang Dewan S.G.T.D


ceramah dan demonstrasi

5'

Kesimpulan : Adanya peran serta peserta didik sebagai subjek pada proses pendidikan dalam Gerakan Pramuka



REFERENSI :  AD - ART Gerakan Pramuka


CATATAN  :  

PELATIH


  ( _______________ )

                                                                                                                        LP - 3.2

LEMBAR PENUGASAN KELOMPOK


PELATIHAN / PENATARAN         :  KMD


1.      POKOK BAHASAN      :  DEWAN SATUAN PRAMUKA

2.      SASARAN                     :  Peserta mampu menghayati  dan membedakan
                                               pelaksanaan Rapat Dewan Satuan Siaga, Rapat Dewan Satuan Penggalang, Rapat Dewan  Satuan Penegak, Rapat Dewan satuan Pandega dan Rapat Dewan Kehormatan Penegak
                                               

3.    WAKTU DISKUSI         :  20 menit
4.    WAKTU  LAPORAN     :   5 menit



5.   ISI PENUGASAN  :

Diskusikan dalam kelompok tentang peragaan sidang Dewan Satuan dalam rangka kenaikan tingkat salah seorang anggota satuan,

    (1)  kelompok I     : Rapat Dewan Satuan Siaga
    (2)  kelompok II    : Rapat Dewan Satuan Penggalang
    (3)  kelompok  III  : Rapat Dewan Satuan Penegak
    (4)  Kelompok IV  : Rapat Dewan Satuan Pandega
    (5)  Kelompok V  : Rapat Dewan Kehormatan Penegak, karena salah seorang anggota Penegak melakukan penipuan sehingga merugikan orang lain.







                                                                            TIM PELATIH






                                                        BAHAN SERAHAN
                                                        BS - 3.2  
DEWAN SATUAN PRAMUKA

I.       PENDAHULUAN
Keberadaan Dewan dalam Satuan Pramuka merupakan wadah kegiatan Pramuka dalam mengembangkan :
1.     jiwa kepemimpinan.
2.     kemampuan bermasyarakat, bekerja sama, tenggang rasa dan hidup bergotong - royong.
3.     kemampuan mengadministrasikan kegiatan satuan.
4.     kemampuan hubungan insani dan kehumasan.
5.     kemampuan dalam menyusun/perencanaan, pemrograman, pelaksanaan dan penilaian atas suatu kegiatan.
6.     kemampuan jiwa demokratis

II.     MATERI POKOK
1.      Dewan Satuan Pramuka merupakan perwakilan dari Barung, Regu, Sangga, Racana.

2.    Dewan Satuan Pramuka, dapat dibedakan menjadi :
a.     Dewan perindukan Siaga / Dewan Siaga, terdiri dari
1)    Pemimpin Barung Utama sebagai Ketua
2)    Para Pemimpin Barung              sebagai Sekretaris Bendahara,
3)    Para wakil Pemimpin Barung     anggota.
4)    Para Pembina Pramuka Siaga dan Pembantu Pembina Siaga bertindak sebagai penasehat, pendorong, pengarah, pembimbing dan mempunyai hak mengambil keputusan terakhir.
b.     Dewan Pasukan Penggalang/ Dewan Penggalang, terdiri dari :
1)    pemimpin regu utama ( PRATAMA ) sebagai ketua.
2)    para pemimpin regu                sebagai sekretaris , bendahara &
3)    para wakil pemimpin regu      anggota
4)    para Pembina Pramuka Penggalang dan Pembantu Pembina Pramuka Penggalang bertindak sebagai penasehat, pendorong, pengarah, pembimbing dan mempunyai hak pengambilan keputusan terakhir.
c.     Dewan Ambalan Penegak / Dewan Penegak, Dewan Racana Pandega/ Dewan Pandega, terdiri dari :
1)   Ketua Dewan Penegak di pegang oleh PRADANA  dan Ketua Dewan Pandega dipegang oleh KETUA RACANA.
2)   Seorang wakil ketua, seorang sekretaris dan seorang bendahara serta beberapa orang anggota dipilih dari para pemimpin wakil pemimpin Sangga.  Sedangkan untuk wakil ketua Dewan Pandega, sekretaris dan bendahara di pilih dari anggota Racana.

      Pembina Pramuka Penegak dan Pembina Pramuka Pandega tidak duduk dalam Dewan Penegak maupun Dewan Pandega, Pembina berfungsi sebagai  konsultan dan fasilitator.
d.   Dewan Satuan Karya Pramuka ( SAKA )
1)    masing - masing SAKA membentuk Dewan SAKA
2)    susunan Dewan SAKA sama dengan Dewan Penegak / Pandega
3)    Dewan SAKA berkedudukan di Kwartir Cabang

3.    Dewan Satuan bertugas :
a.     Menyusun perencanaan, pemrograman , pelaksana program dan mengadakan penilaian atas pelaksanaan kegiatan.
b.    Menjalankan dan mengamalkan semua keputusan dewan.
c.     Mengadministrasikan semua kegiatan satuan.
d.    Keputusan Dewan dibuat secara demokratis

4.    Dewan Kehormatan
Dewan kehormatan ialah dewan yang dibentuk untuk mendampingi Dewan satuan dengan tugas :
a.     membahas proses pelantikan seorang Pramuka.
b.    membahas proses pemilihan dan pelantikan pemimpin satuan.
c.     membahas tentang pemberian penghargaan atas prestasi seorang Pramuka.
d.    membahas tentang tindakan atas pelanggaraan Kode Kehormatan Pramuka.
e.     membahas tentang rehabilitasi anggota satuan.

5.    Dewan Kehormatan dalam satuan
a.     Pada Peridukan Siaga tidak dibentuk Dewan Kehormatan untuk itu peranan Dewan Kehormatan dibebankan kepada para Pembina Pramuka Siaga dan Pembantu  Pembina Siaga.
b.    Dewan Kehormatan Penggalang, terdiri atas :
1)    Ketua di pegang langsung oleh Pembina Pramuka Penggalang
2)    Wakil ketua dipegang oleh Pembantu Pembina Penggalang
3)    Sekretaris dipegang oleh salah seorang pemimpin regu
4)    Anggota dewan kehormatan terdiri dari semua Pemimpin regu
c.     Dewan Kehormatan Penegak, terdiri atas
1)    Ketua di pegang oleh PRADANA
2)    Wakil ketua, Sekretaris, dan anggota adalah para pemimpin Sangga dan wakil Pemimpin Sangga.
(3)   Pembina  dan para pembantu Pramuka Penegak sebagai penasehat dan pengarah.
d.    Dewan Kehormatan Pandega, terdiri atas :
1)    Ketua di pegang oleh ketua Racana
2)    Wakil ketua, sekretaris, bendahara dan anggota adalah para anggota Rancana yang sudah di lantik
3)    Pembina Pramuka Pandega sebagai penasehat & pengarah

6.    Dalam Gerakan Pramuka disamping kita dapati Dewan Satuan Pramuka terdapat pula Dewan Kerja Penegak Pandega, sebagai berikut :
a.     Dewan Kerja Pramuka Penegak Pandega Ranting (DKR) berkedudukan di Kwartir Ranting.
b.    Dewan Kerja Pramuka Penegak Pandega Cabang (DKC) berkedudukan di Kwartir Cabang.
c.     Dewan Kerja Pramuka Penegak Pandega Daerah (DKD) berkedudukan di Kwartir Daerah.
d.    Dewan Kerja Pramuka Panegak Pandega Nasional (DKN) berkedudukan di Kwartir Nasional.

7.    Dewan Kerja dalam Gerakan Pramuka adalah badan kelengkapan Kwartir berfungsi  sebagai wahana kaderisasi kepemimpinan, dan bertugas mengelola Pramuka Penegak dan Pandega.

8.    Dewan Kerja Pramuka Penegak Pandega dipilih oleh musyawarah Pramuka Penegak dan Pandega Puteri Putera (MUSPANITERA) ditingkat masing - masing yang kemudian disahkan oleh Kwartir.

9.    Dewan Kerja Pramuka Penegak Pandega :
a.     Susunan Dewan Kerja
1)    Ketua
2)    Wakil ketua
3)    Sekretaris I dan Sekretaris II
4)    Bendahara
5)    Beberapa anggota
b.    Apabila Ketua Dewan Kerja tersebut terpilih seorang putera, maka harus dipilih seorang puteri sebagai wakil ketua, atau sebaliknya.
c.     Ketua dan Wakil Ketua Dewan Kerja, adalah ex officio anggota Kwartir sebagai andalan.

III.    PENUTUP
          Keberadaan Dewan Satuan Pramuka, Dewan Kehormatan Satuan, dan Dewan Kerja, mentengarai bahwa peserta didik pada proses pendidikan dalam Gerakan Pramuka berperan sebagai subyek pendidikan.


KEPUSTAKAAN
1.    AD & ART GERAKAN   PRAMUKA     (Kepres   No. 34 Th. 1999 dan Kep Ka. Kwarnas No. 107 Th 1999), Kwarnas.  Jakarta, 1999.
2.    PETUNJUK PENYELENGGARAAN GUGUS DEPAN PRAMUKA (137 Th 1990) Kwarnas. Jakarta, 1990.
3.    PETUNJUK PENYELENGGARAAN SATUAN KARYA PRAMUKA (PP  118 Th. 1977) Kwarnas.  Jakarta, 1977.
4.    PETUNJUK PENYELENGGARAAN DEWAN KERJA PENEGAK PANDEGA PUTERA & PUTERI (PP 106 Th 1980). Kwarnas. Jakarta, 1980
5.    SCOUTING : AN EDUCATIONAL  SYSTEM, The Team System. WSB JENEVA.